#menubar{ width:900px; height:32px; background:#de360f; margin: 0 auto; } #menubar ul{ float:left; margin:0; padding:0; } #menubar li{ float:left; list-style:none; margin:0; padding:0; } #menubar li a, #menubar li a:link{ border-right:1px solid #F0512D; float:left; padding:8px 12px; color:#fff; text-decoration:none; font-size:13px; font-weight:bold; } #menubar li a:hover, #menubar li a:active, #menubar .current_page_item a { color:#ffa500; text-decoration:underline; } #menubar li li a, #menubar li li a:link, #menubar li li a:visited{ font-size: 12px; background: #de360f; color: #fff; text-decoration:none; width: 150px; padding: 0px 10px; line-height:30px; } #menubar li li a:hover, #menubar li li a:active { background: #F0512D; color: #ffa500; } #menubar li ul{ z-index:9999; position:absolute; left:-999em; height:auto; width:170px; margin-top:32px; border:1px solid ##F0512D; } #menubar li:hover ul, #menubar li li:hover ul, #menubar li li li:hover ul, #menubar li.sfhover ul, #menubar li li.sfhover ul, #menubar li li li.sfhover ul{ left:auto } #menubar li:hover, #menubar li.sfhover{ position:static
SELAMAT DATANG DIBLOG SMAN 1 KELUA WADAH BALAJAR DAN SILATURRAHMI

Jumat, 31 Agustus 2012

kandungan qs al ahzab ayat 59


Tafsir Qur’an surat Al-Ahzab ayat 59 dalam perspektif Makkiyah Madaniyah

Artinya:
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkanseluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. “ (Q.S Al-Ahzab: 59)
* Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.
********************************
Akan kita lihat dalam Al-Qur’an bahwa surat Makkiyah itu penuh dengan ungkapan-ungkapan yang kedengarannya amat keras di telinga, huruf-hurufnya seolah melintarkan api ancaman dan siksaan, masing-masing sebagai penahan dan pencegah, sebagai suara pembawa malapetaka, seperti dalam surat Qari’ah, Gasyiah dan Waqi’ah, dengan huruf-huruf hijaiyah pada permulaan surat dan ayat-ayat berisi tantangan di dalamnya, nasib umat-umat terdahulu, bukti-bukti alamiah dan yang dapat diterima akal. Semua ini cirri-ciri Qur’an surat Makkiyah.[1]
Namun, setelah terbentuk jamaah yang beriman kepada Allah, malaikat, kitab dan Rasul-Nya, kepada hari akhir dan qadar, baik dan buruknya, serta akidah yang telah diuji dengan berbagai cobaan dari orang musyrik dan ternyata dapat bertahan, dan dengan agamanya itu mereka berhijrah karena lebih mengutamakan apa yang ada di sisi Allah daripada kesenangan hidup duniawi – maka di saat itu kita melihat ayat-ayat Madaniyah yang panjang-panjang membicarakan hokum-hukum Islam serta ketentuan-ketentuannya, mengajak berjihad dan berkurban di jalan Allah kemudian menjelaskan dasar-dasar perundang-undangan, meletakkan kaidah-kaidah kemasyarakatan, menentukan hubungan pribadi, hubungan internasional dan antar-bangsa. Juga menyingkapkan aib dan isi hati orang-orang munafik, berdialog dengan Ahli Kitab dan membungkam mulut mereka. Inilah cirri-ciri umum Qur’an yang Madaniyah.[2]
Para sarjana muslim mengemukakan empat perspektif dalam mendefinisikan terminologi Makkiyah dan Madaniyah. Keempat perspektif itu adalah: masa turun (zaman an-nuzul), tempat (makan an-nuzul), objek pembicaraan (mukhathab) dan tema pembicaraan (maudu).
Jika demikian, bisa disimpulkan bahwa pengertian Makkiyah ialah ayat-ayat yang turun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah, kendatipun bukan turun di Makkah. Bisa dikatakan pula bahwa Makkiyah itu merupakan ayat-ayat yang turun di Makkah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah dan Hudabiyah serta ayat-ayat yang menjadi kitab bagi orang-orang Makkah.
Sedangkan Madaniyah adalah ayat-ayat yang turun sesudah Rasulullah hijrah ke Madinah, kendati bukan turun di Madinah. Ayat-ayat yang turun setetlah peristiwa hijrah di sebut Madaniyah walaupun turun di Makkah atau Arafah yang turun di Madinah dan Sekitarnya, seperti Uhud, Quba, dan Sul’a. Serta Madaniyah adalah ayat-ayat yang menjadi kitab bagi orang-orang Madinah.
Para ulamapun telah meneliti surat-surat makki dan madani dan menyimpulkan beberapa ketentuan analogis bagi keduanya yang menerangkan ciri-ciri khas gaya bahasa dan persoalan-persoalan yang dibicarakannya. Dari situ mereka dapat menghasilkan kaidah-kaidah dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Tanda-tanda surah Makkiyah:
Sesuatu surat/ayat adalah Makkiah, kalau/ayat itu mempunyai tanda-tanda sebagai berikut:
1. Dimulai dengan nida’ “ya ayyuhan nasu” dan sejenisnya
2. Didalamnya terdapat lafadh: “kalla”
3. Didalamnya terdapat ayat-ayat sajdah, ada 15 ayat sajdah
(sunnat bersujud tilwah)
4. Pada permulaannya teradapat huruf-huruf tahajji (huruf terpotong-potong), seperti dalam surat Shaad, as-Syura, as-Syua’ra, al-A’raf dan al-Ankabut.
5. Didalamnya terdapat cerita-cerita para Nabi dan Umat-umat terdahulu, selain surah al-Baqarah dan al-Maidah. Contohnya, antara lain seperti surah : Yunus, Yusuf, Luth, Ibrahim, al-Kahfi, Maryam. Thaha dan sebagainya.
6. Didalamnya berisi cerita-cerita terhadap kemusrikan dan penyembuhan-penyembuhan kepada selain Allah SWT.
7. Didalamnya berisi keterangan-keterangan adat kebiasaan orang-orang kafir dan orang musyrik yang suka mencuri, merampok, membunuh, mengubur hidup-hidup anak perempuan dan lain sebagainya.
8. Didalamnya berisi penjelasan dengan bukti-bukti argumentasi dari alam ciptaan Allah SWT. Yang dapat menyadarkan orang-orang kafir untuk untuk beriman kepada Allah SWT dan percaya kepada Rasul dan Kitab-kitab suci, hari kiamat dan sebagainya.
9. Berisi sejarah perinsip-perinsip akhlak yang mulia dan pranata sosial yang tinggi, yang dijelaskan dengan sangat mengagumkan sehingga menyebabkan orang benci kepada kekafiran, kemusrikan, kefasikan, kekerasan, taat setia, kasih sayang, ikhlas, hormat, rendah hati dan sebagainya.
10. Berisi nasehat-nasehat petunjuk dan ibarah-ibarat dari balik yang dapat menyadarkan bahwa kekafiran, kedurhakaan, dan pembangkangan umat itu hanya mengakibatkan kehancuran dan kesengsaraan saja.
11. Kebanyakan surat/ayat-ayatnya pendek-pendek, karena menggunakan bentuk ijaz (singkat padat). Bentuk tersebut ditujukan kepada orang-orang Quraisy Mekkah yang umumnya pakar bahasa Arab.
b. Madaniyah:
1. Menjelaskan permasalahan ibadah, muamalah, hudud, bangunan rumah tangga, warisan, keutamaan jihad kehidupan sosial, aturan-aturan pemerintah menangani perdamaian dan peperangan, serta persoalan-persoalan pembentukan hukum syara’.
2. Mengkhitabi Ahli Kitab Yahudi dan Nashrani dan mengajaknya masuk Islam, juga menguraikan perbuatan mereka yang telah menyimpangkan Kitab Allah dan menjauhi kebenaran serta perselisihannya setelah datang kebenaran.
3. Mengungkapkan langkah-langkah orang-orang munafik.
4. Surat dan sebagian ayat-ayatnya panjang-panjang serta menjelaskan hukum dengan terang dan menggunakan ushlub yang terang pula.
5. Didalamnya berisi hukum-hukum daraidl, seperti dalam surah: al-Baqarah, an-Nisa’, al-Maidah.
6. Berisi izin jihad fi sabilillah dan hukum-hukumnya, seperti talak, ataupun mengenai hadlonah, seperti dalam surah : al-Baqarah, al-Anfal, at-Taubah dan al-Hajj.
7. Berisi hukum-hukum Munakahat. Baik mengenai nikah, talak atau mengenai hadlonah, seperti, seperti dalam surah : al-Baqarah, Ali Imran, an-Nisa’, Al-Maidah, an-Nur, al-Mumtahanh, at-Thalak dan sebagainya.
8. Berisi hukum-hukum kemasyarakat, kenegaraan, seperti masalah permusyawaratan, kedisiplinan, kepemimpinan, pendidikan pergaulan dan sebagainya seperti dalam surah : al-Baqarah, Ali Imran, al-Maidah, al-Anfal, at-Taubah, al-Hjarat dan sebagainya.
9. Berisi da’wah (seruan) kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani serta penjelasan-penjelasan akidah mereka yang menyimpang, seperti dalam surah : al-Baqarah, Ali Imran, al-Fath, al-Hajt, al-Hjarat dan sebagainya.
10. Berisi ayat-ayat nida’ yang ditujukan kepada penduduk Madinah yang Islam dan Khithab (perintah) : “Ya Ayyuhal ladzini amanu” yang dalam al-Qur’an ada 219 ayat. Atau 219/6236 x 100% = 3,51%
11. Kebanyakan surah/ayat-ayatnya panjang-panjang sebab ditujukan kepada penduduk Madinah yang Islam yang orang-orangnya banyak yang kurang terpelajar, sehingga perlu dengan ungkapan yang luas agar jelas.[3]
Dari penjelasan diatas, akhirnya kita bisa menarik kesimpulan bahwa surat Al-Ahzab yang pada khusunya pada ayat 59 adalah golongan surat Madaniyah. Hal itu karena Q.S Al-Ahzab ayat 59 berisi perintah atau seruan untuk menutup aurat atau berjilbab. Perintah dari Allah Swt tersebut dikategorikan ke dalam perintah ibadah yang merupakan ciri utama pada ayat-ayat Madaniyah. Jelasnya, terdapat pada poin pertama dalam ciri Madaniyah diatas, diapaparkan sebelumnya bahwa ciri Madaniyah berisi permasalahn ibadah serta persoalan-persoalan hukum syara’, maka Al-Ahzab ayat 59 masuk kedalam kategori tersebut. Perintah berjilbab itu hadir setelah akidah masyarakat telah terhujam dengan baik.

Tidak ada komentar :

Poskan Komentar